Tonggak Telah Mati

Tonggak” yang ditulis, dimainkan dan disutradarai oleh Mh Iskan malam ini cukup membuat saya enggan beranjak dari tempat. Jujur saya bahwa baru kali ini saya nonton yang namanya teater sampai selesai. Gaya dan cerita yang ditampilkan oleh aktor 70an ini benar-benar kaya akan makna. Meski berusia lebih dari 67tahun pemilik Teater Persada Ngawi ini cukup enerjik berguling-guling memerankan tokoh tonggak.

mh-iskan

Diceritakan Tonggak adalah seorang yang cerdik dan agak “nyamin“, meski tidak begitu pandai tapi dia berhasil untuk bisa hidup dan menang dalam kehidupannya. Meski tidak kuat namun dia tonggak berhasil mengalahkan kehidupan kejam. Tonggak yang sederhana namun dia amanah, Tonggak yang miskin namun dia pemegang teguh kepercayaan.

Tokoh seperti pak Tonggak inilah yang didambakan oleh banyak rakyat kecil, yang layak jadi pemimpin negara, meskipun Tonggak hidup serba kurang namun tidak akan menjual pulau. Tonggak yang hidup pas-pasan namun tetap anti menggunakan kekuasaanya kepentingan pribadi. Tonggak yang selalu berusaha adil, tidak peduli istri (orang terkasih) kalo salah ya dihukum.

Tonggak yang “Cerdik(tidak hanya cerdas) sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan seabrek persoalan dengan tanpa membuat persoalan baru. Tonggak yang “Amanah“, karena saat ini (diakui atau tidak) kita krisis pemimpin yang amanah, sehingga dengan pimpinan tertinggi amanah akan mudah membuat pimpinan dibawahnya berlaku amanah juga.”Loyal” si-tonggak adalah tokoh yang loyal terhadap leluhur, meski apapun yang terjadi tonggak tetap mempertahankan rumah yang menjadi warisan leluhurnya. Jangankan orang lain merebut rumah, melewati pintunya tonggak akan meledakkan orang itu.

Adakah capres dari tiga kontestan sekarang ini layaknya seperti si-Tonggak? niscaya dia akan menjadi tonggak reformasi, tonggak sejarah, tonggak kebangkitan,tonggak bangsa indonesia…

Tonggak yang akhirnya mati tertimpa balok kayu demi mempertahankan rumahnya namun dia mati dengan tersenyum, mati bahagia, mati khusnul khotimah, mati yang dinanti-nantikan.

Selain menampilkan monolog Teater Persada Ngawi oleh Mh. Iskan, Pentas teater yang diberi label Kembalinya Sang Maestro tadi malam juga didukung penampilan Teater MAN Ngawi, Teater MAN Paron, Teater SMAN 2 Ngawi, Teater SMK PGRI 1 Ngawi, Teater SMPN 2 Ngawi dan Teater Hardo Sayoko

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *