Sugeng Tindak Simbah KH. Nawawi Abdul Aziz

KH. Nawawi Abdul Aziz
Sebelum nulis tentang sedone Simbah “KH Nawawi Abdul Aziz“, tak critakke kronologi hari itu rabu,24 Desember 2014. Rutinitas hari itu berjalan seperti biasanya, tidak ada yang istimewa. Menjelang maghrib pulang dari kantor NU saya tidak langsung pulang mampir cak Ji untuk beli udud buat persiapan rapat bersama sahabat-sahabat Ansor dan Banser malam itu. Setelah bar ng-isya’-an sebelum berangkat Diskusi, nyalain PC untuk Print Surat Rekomendasi untuk sahabat banser yang akan berangkat ke SUSBALAN Ponorogo.


KH Nawawi Abdul AzizBelum sempat nyetak Surat, Android kesayanganku meraung-raung minta perhatian, biasanya baik SMS, WA, Atau BBM gak bareng-bareng ngeneki. Penasaran saya lihat ternyata sebuah kabar menyesakkan dada dikirim oleh konco-konco Ngrukem, mengabarkan bahwa simbah Sedo. MasyaAlloh. Dheleg-deleg. Seolah otak ini terasa beku. gaiso mikir, gaiso nyapo-nyapo.

Memang berapa minggu terakhir saya selalu mengikuti perkembangan Gerah Simbah melalui akun facebook Gus Muslim Nawawi salah seorang putra dari Romo Yai Nawawi bin Abdul Aziz. Mulai dirawatnya beliau di rumah sakit sampai beliau dirujuk ke RS. (kenangan) Sarjito Jogjakarta. Meski begitu, kabar kapundute Romo Yai benar-benar membuat raiso nyapo-nyapo.
KH. Nawawi Abdul Aziz

Setelah diskusi sebentar bersama istri setia, akhirnya diputuskan berangkat berdua malam ini ke Ngrukem. Androidku masih terus bernyanyi, BBM, WA, Telpon dan SMS terus berdatangan. WA tak woco siji-siji, SMS tak balesi, BBM tak matursuwuni. Batang lagi BBM dari mas Siran salah satu “para pencari kuburan” Mas ingkang sedo sinten? monggo kulo derekke”. Saya kembali diskusi sama UMMIK nek arep diterke mas Siran. Yowes, aku ga melu, kata ummik memutuskan.
Siran Al Amin
Matur Suwun Mas Siran dan mas Angga..! para pencari kuburan yang luar biasa..

Setelah saya selesaikan urusan Ansor dan Banser, Malam itu sekitar pukul sepuluh saya berangkat bersama mas Siran dan disteri oleh para pencari kuburan lain yaitu Pak Angga si pemilik Java Multi Media Center. Perjalan berjalan sangat lambat, apalagi malam itu malam preinan natal. Satu jam lebih baru masuk kabupaten Sragen. Padahal biasane nggur setengah atau telungprapat jam. Masuk Sragen saya telpon salah satu alumni Ngrukem yang rumahnya Jogja. Kata dia kalau mbah yai disarekke jam 2 malam ini. Waduuuh… pie iki? padahal saiki wes meh jam rolas. opo yo nutut.

Saya bilang ke pak Jongki “pie ki ngko? opo nutut? mbah yai disareeke jam loro?” tanpa menjawab pak Angga yang njongkini Datsun GO Putih langsung tancap Gas. GPRS. Gas Pol Rem Sithik. Lampu merah terak, garis lurus ga peduli. Alhamdulillah tekan Ngrukem dengan selamat gaono opo-opo, saat jam wes setengah telu. Sampai ngrukem langsung menuju ngguri pondok putri, dimana keyakinan saya si-mbah pasti disarekke neng sebelahe bu-Nyai Walidah. Kok Sepi… MasyaAlloh ternyata dikerjai Cak Dukek…
Ternyata Simbah Yai di Sarekke Jam loro awan, tidak seperti kata cah piyungan kui mau.
hmmm…

Innalillahi wa innailaihi rajiun
Innalillahi wa innailaihi rajiun
Innalillahi wa innailaihi rajiun

Ya Allahul’Adzim
Engkau ambil lagi kekasihMU
Engkau cabut lagi tiang penyangga bumiMU
Engkau angkat ke langit lagi ilmuMU

Selamat jalan wahai simbahku
Selamat jalan wahai guruku
Selamat jalan mbah yaiku

Selamat bertemu dengan Tuhanmu
Selamat bertemu dengan kekasihmu
Selamat bertemu dengan satuanmu

Maafkan kami,
Jika kami tak bisa sepertimu
Jika kami tak seindah bayanganmu
Jika kami tak semampu keinginanmu

Istirahatlah bersama kebaikanmu
Istirahatlah bersama ilmumu
Istirahatlah bersama doa kami
Ghofarollahu lahu warohimahu warofa’a darojatahu wa nafa’a bihil muslimin, Syaiun lillahi lahul Al-Fatihah

Kepergian beliau merupakan pukulan berat tidak hanya bagi keluarga dan santri, tapi merupakan pertanda dari Allah SWT, mengingatkan kepada kita semua bahwa dunia ini sudah renta, dunia ini semakin tua dan hampir tak mampu lagi menahan beban dosa dari ummat yang ada didalamnya.

biso-o rumongso!
ojo rumongso boso!

ngajiyo! yen gak gelem, mulango!
mulango! Yen gak gelem, ngajiyo!

Dua peribahasa inilah yang sering dingendikakne Beliau saat ngaji mingguan bagi santri tahfidz Pesantren An-nur Ngrukem. Sosok beliau yang tegas dan bijaksana, selalu melihat persoalan dengan berbagai sudut pandang yang jarang terpikirkan oleh orang lain. Inilah yang membedakan Beliau, KH.Nawawi Bin Abdul Aziz dengan banyak tokoh-tokoh lain.

Sehari kemarin ribuan orang, tidak hanya dari Jogjakarta bahkan dari seluruh pelosok negeri. Tidak hanya santri atau masyarakat, bahkan para pejabat ikut tumpah ruah menghormati dan mendoakan kepergian jasad beliau untuk meninggalkan kita selamanya. Hal itu sebagai sebuah tanda beliau adalah tokoh yang bisa mengayomi semua lapisan masyarakat. Keranda yang membawa jasad beliau seolah berjalan diatas lautan manusia. Semua yang hadir tak satupun yang tidak menitikkan air mata menghantar kepergian Beliau “KH Nawawi bin Abdul Aziz. Bahkan tidak sedikit yang terisak histeris sambil menengadahkan tangan mendoakan Mantan Rois Syuriyah PWNU Jigjakarta ini. Ghofarollahu lahu warohimahu warofa’a darojatahu wa nafa’a bihil muslimin, Syaiun lillahi lahul Al-Fatihah.

Antrian Sholat jenazah begitu mengular, dari mulai malam sampai menjelang prosesi pemakaman tidak ada jeda para muaziyin melakukan sholat jenazah. Tidak terhitung jumlah berapa kali sholat jenazah dilakukan.
KH. Nawawi Abdul Aziz
KH. Nawawi Abdul Aziz
KH. Nawawi Abdul Aziz
KH. Nawawi Abdul Aziz

Sahabat-sahabatku,
Satu persatu Allah panggil guru-guru kita
Satu persatu ilmu mereka diangkat kembali ke langit
Satu persatu sahabat kita pun diambil

antrian itu menunggu kita
antrian yang tanpa tanpa aba-aba
antrian yang tanpa kata
semua itu nyata, dekat dan tiba-tiba

Beruntun pada tahun 2014 ini para Ulama yang luar biasa dalam konsentrasi Li i’la-i kalimatillah kapundut, KH Sahal Mahfudz Suriyah PBNU, KH Mahfud Mas’ud PCINU Arab Saudi, KH. Suharbillah Guuru Besar PagarNusa, KH Idris Marzuqi Lirboyo, Kiai Nurul Musyafa’ dan KH Ahmad Kholil Jeporo, KH.Alawi Muhammad Madura, KH. Arim Al-Hasaniyah terakhir Simbah “KH Nawawi Abdul Aziz“, Ghofarollahu lahum warohimahum warofa’a darojatahum wa nafa’a bihimul muslimin, Syaiun lillahi lahumul-Fatihah
ini menandakan bahwa Alloh mulai serius mencabut ilmu-ilmuNYA dari muka bumi ini. Ini sebagai tanda akan dekatnya hari akhir dari semua hari. Wallohu a’lam..

You may also like

3 Comments

  1. اهلا بكـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــم

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *