Materi Ke-NU-an DTD

Nahdlatul Ulama (Kebangkitan ‘Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.

A. Sejarah Berdirinya NU

Berdirinya Nahdlatul Ulama sangat dipengaruhi oleh peta politik dan faham keagamaan di semenanjung Arabia kala itu. Sebelum tahun 1924, raja yang berkuasa di Mekkah dan Madinah ialah Syarif Husen, yang bernaung di bawah Kesultanan Turki. Akan tetapi pada tahun 1926 Syarif Husen digulingkan oleh Ibnu Suud. Ibnu Suud ialah seorang pemimpin suku yang taat kepada seorang pengajar agama bernama Abdul Wahhab dari Nejed yang ajaran-ajaranya sangat konservatif. Misalnya berdoa didepan makam nabi dihukumi syirik.

Penguasa hijaz yang baru ini mengundang pemimpin-pemimpin islam seluruh dunia untuk menghadiri Muktamar Islam di Mekkah pada bulan Juni 1926. Di Indonesia kebetulan waktu itu sudah terbentuk Centra Comite Chilafat atau disebut juga sebagai Komite Hilafat, dan duduk di dalamnya berbagai wakil Organisasi Islam, termasuk K.H. Wahab Hasbullah.
Centra Comite Chilafat yang akan menentukan utusan Indonesia kemuktamar tersebut. Berhubungan dengan itu, maka K.H. Wahab Hasbullah bersama-sama para ulama’ Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathan dengan restu K.H. Hasyim Asy’ari memutuskan untuk mengirimkan delegasi sendiri ke mukatamar pada juni 1926 dengan membentuk komite sendiri yaitu komite hijaz.

Pada tanggal 31 Januari 1926 komite mengadakan rapat di Surabaya dengan mengundang para ‘ulama terkemuka di Surabaya dan dihadiri K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Asnawi Kudus. Rapat memutuskan K.H. Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz menghadiri muktamar dunia Islam di Mekkah.

Selain dari pada itu latar belakang berdirinya NU juga berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia kala itu. Salah satu faktor pendorong lahirnya NU adalah karena adanya tantangan yang bernama globalisasi yang terjadi dalam dua hal :

1. Globalisasi Wahabi, Tahun 1924, Tersebarlah berita penguasa baru yang berfaham Wahabi akan melarang semua bentuk amaliyah keagamaan kaum sunni yang sudah berjalan berabad-abad di Tanah Arab dan akan menggantinya dengan model Wahabi. Pengamalan agama dengan sistem madzhab, tawassul, ziarah kubur, maulid nabi dan lain sebagainya, akan segera di larang.

2. Globalisasi imperialisme fisik konvensional yang di Indonesia di lakukan oleh Belanda, Inggris, dan Jepang, sebagaimana juga terjadi di belahan bumi Afrika, Asia, Amerika Latin, dan negeri-negeri lain yang dijajah bangsa Eropa.

B. Tentang Faham Wahabi

Dalam materi sejarah ASWAJA telah disinggung tentang Kelompok yang tidak setuju Muawwiyah maupun Ali Bin Abi Tholib sebagai kholifah, karena dalam mengambil keputusan hukum (perundingan) tidak menggunakan hukum Allah atau hukum Al Qur’an sehingga keluar dari dua kelompok tersebut. Sehingga mereka menyata keluar (khoroja akar kata dari khowarij) dari kedua kelompok tersebut.

Tidak berlebihan kiranya jika sebagian orang beranggapan bahwa kaum Wahabi (Salafi) memiliki banyak kemiripan dengan kelompok Khowarij. Melihat, dari sejarah yang pernah ada, kelompok Khowarij adalah kelompok yang sangat mirip sepak terjang dan pemikirannya dengan kelompok Wahabi. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa kelompok Wahabi adalah pengejawantahan kelompok Khowarij di masa sekarang ini.

Disini, secara singkat bisa disebutkan beberapa sisi kesamaan antara kelompok Wahabi dengan golongan Khowarij yang dicela melalui lisan suci Rasulullah saw, dimana Rasul memberi julukan golongan sesat itu (Khowarij) dengan sebutan “mariqiin”, yang berarti ‘lepas’ dari Islam.

Paling tidak ada enam kesamaan antara dua golongan ini yang bisa disebutkan.

  1. Sebagaimana kelompok Khowarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran, walaupun dalam beberapa hal memiliki kesamaan dari konsekwensi hukumnya. Abdullah bin Umar dalam mensifati kelompok Khowarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir, lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.
    Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok Salafi (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Bisa dilihat, betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (muthowi’) menuduh para jamaah haji sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak sesuai dengan akidah mereka.
  2. Sebagaimana kelompok Khowarij disifati sebagaimana yang tercantum dalam hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka biarkan”, maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji semacam itu.
    Sebagaimana yang pernah dilakukan pada awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Pembantaian berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan dibeberapa tempat, terkhusus diwilayah Hijaz dan Iraq kala itu.
  3. Sebagaimana kelompok Khowarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin, seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama.
  4. Seperti kelompok Khowarij memiliki jiwa jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabipun mempunyai jiwa yang sama.
  5. Kelompok Khowarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajaran yang menyimpang, maka Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama. Oleh karenanya, ada satu hadis tentang Khowarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi. Rasul bersabda: “Beberapa orang akan muncul dari belahan Bumi sebelah timur. Mereka membaca al-Quran, tetapi tidak melebihi batas tenggorokan. Mereka telah keluar dari agama (Islam), sebagaimana terkeluarnya (lepas) anak panah dari busurnya. Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala”.
    Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah timur” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd. Sedang dalam satu hadis disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat berbagai goncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah”. Atau dalam ungkapan lain yang menyebutkan: “Disana akan muncul qorn setan”. Dalam kamus bahasa Arab, kata qorn berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau kekuasaan.Sedang kita tahu, kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, pendiri Wahabi. Kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme, dan dari situlah pemikiran Wahabisme disebarluaskan kesegala penjuru dunia. Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana atau gamis hingga betis, mencukur rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan adalah salah satu syiar dan tanda pengikut kelompok ini.
  6. Sebagaimana kelompok Khowarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan dosa besar, maka dapat dikategorikan “negara zona perang” (Daar al-Harb), kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal tersebut. Sekarang ini dapat dilihat, bagaimana kelompok-kelompok radikal Wahabi melakukan aksi teror diberbagai tempat yang tidak jarang kaum muslimin juga sebagai korbannya.

Jadi secara garis besar Nahdlatul Ulama berdiri dalam rangka membendung gerakan NEO KHOWARIJ dan NEO IMPERIALISME.

C. Tokoh-Tokoh Nahdlatul Ulama

NU sebagai ormas terbesar di Indonesia memiliki banyak tokoh yang berkiprah dalam membentuk organisasi tersebut diantaranya adalah:

KH Hasyim Asy’ari(1817-1947) Tebu Ireng Jombang
KH Bisri Syamsuri (1886-1980)Denayar Jombang
KH Abdullah Wahab Chasbullah (1888-1971)Tambakberas Jombang
KH Abdul Chamid Faqih Sedayu Gresik
KH Ridwan Abdullah (1884-1962) Surabaya
KH Abdullah Halim Leuwemunding Cirebon
KH Abdul Aziz Surabaya
KH Ma’shum (1870-1972) Lasem Rewmbang
KH A Dachlan Achjad Malang
KH Nachrowi Thahir (1901-1980) Malang
KH R Asnawi (1861-1959) Kudus
Syekh Ganaim (tinggal di Surabaya berasal dari Mesir)
KH Abdullah Ubaid (1899-1938) Surabaya

Selain itu juga ada beberapa tokoh terkenal yang menjadi tokoh belakang layar yaitu KH Kholil Bangkalan yang notabennya sebagai guru dari KH Hasyim Asy’ari dan KH As’ad yang menjadi saudara seperguruannya ketika menyantri di KH Kholil.

Kyai Kholil lahir Selasa 11 Jumadil Akhir 1235 di Bangkalan Madura nama ayahnya Abdul Latif, beliau sangat berharap dan memohon kepada Allah SWT agar anaknya menjadi pemimpin ummat. Pada tahun 1859 ketika berusia 24 tahun Kyai Kholil memutuskan untuk pergi ke Mekkah dengan biaya tabungannya, sebelum berangkat beliau dinikahkan dengan Nyai ‘Asyik. Di Mekkah beliau belajar pada Syeikh di Masjidil Haram tetapi beliau lebih banyak mengaji pada para Syeikh yang bermazdhab Syafi’i.

Sepulang dari Mekkah beliau dikenal sebagai ahli fiqih dan thoriqot bahkan ia memadukan kedua ilmu itu dengan serasi dan beliau juga hafizd kemudian beliau mendirikan pesantren di Desa Cengkebuan. Kyai Kholil wafat tanggal 29 Ramadlan 1343 H dalam usia 91 th. hampir semua pesantren di Indonesia sekarang masih mempunyai sanad dengan pesantren Kyai Kholil.

KH. Hasyim Asy’ari Beliau adalah seorang ‘ulama yang luar biasa hampir seluruh Kyai di Jawa memberi gelar Hadratus Syeikh (Maha Guru) beliau lahir selasa kliwon 24 Dzulqa’dah 1287 H bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Jombang. Ayahnya bernama K. Asy’ari Demak Jawa Tengah. Ibunya bernama Halimah putri dari Kyai Utsman pendiri pesantren Gedang.

Dalam rangka mengabdikan diri untuk kepentingan ummat maka K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren Tebuireng, jombang pada tahun 1899 M. Dengan segala kemampuannya, Tebuireng kemudian berkembang menjadi “Pabrik” pencetak kiai. Pada tanggal 17 Ramadlan 1366 H bertepatan dengan 25 Juli 1947M K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari Memenuhi panggilan Ilahi.

KH. Abdul Wahab Hasbullah Beliau adalah seorang ‘ulama yang sangat alim dan tokoh besar dalam NU dan bangsa Indonesia. Beliau dilahirkan di Desa Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada bulan Maret 1888.

Semenjak kanak-kanak beliau dikenal kawan-kawannya sebagai pemimpin dalam segala permainan. Langkah awal yang ditempuh K.H. Wahab Hasbullah kelak sebagai bapak pendiri NU, itu merupakan usaha membangun semangat nasionalisme lewat jalur pendidikan yang sengaja dipilih nama Nahdlatul Wathan yang berarti Bangkitnya Tanah Air.
KH. Bisri Syansuri lahir di Pati, Jawa Tengah, 18 September 1886 meninggal di Jombang Jawa Timur pada tanggal 25 April 1980. Ia adalah pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang dan terkenal atas penguasaannya di bidang fikih agama Islam.

Beliau bersama para kiai muda saat itu antara lain KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Mas Mansyur, KH Dahlan Kebondalem, dan KH Ridwan, membentuk klub kajian yang diberi nama Taswirul Afkar (konseptualisasi pemikiran) dan sekolah agama dengan nama yang sama, yaitu Madrasah Taswirul Afkar.

Beliau adalah peserta aktif dalam musyawarah hukum agama, yang sering berlangsung di antara lingkungan para kiai pesantren, sehingga pada akhirnya terbentuklah organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Keterlibatannya dalam upaya pengembangan organisasi NU antara lain berupa pendirian rumah-rumah yatim piatu dan pelayanan kesehatan yang dirintisnya di berbagai tempat.

H. Hasan Gipo atau Hasan Basri lahir di Surabaya, meninggal di Surabaya tahun 1934 adalah Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang pertama mendampingi K.H. Hasyim Asyari. Hasan yang berdarah Arab bermarga Gipo (Sagipodin), merupakan saudagar kaya di daerah itu. Hasan Gipo digambarkan bertubuh sedikit besar, berbadan gemuk, dan berkumis. Ia dikaruniai tiga putra.

KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur (lahir di Jombang 7 September 1940 meninggal 30 Desember 2009 pada adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001.

Ia menggantikan Presiden B.J. Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999. Tepat 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR. Abdurrahman Wahid adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *