Idul Fitri

Setelah sebulan penuh di bulan suci, mensucikan diri dan berlatih menguasai diri, sudah sepantasnya mereka bergembira ria dalam syukur hamba yang ‘menang’. Apakah syukur itu diungkapkan dalam ritual mudik, saling mengunjungi, atau yang lain.

Muslim yang paling muslim, menurut Nabi Muhammad SAW, ialah man salimal muslimuuna min lisaanihi wayadihi , orang yang lisan dan tangannya tidak pernah menyakiti sesama. Mukmin sejati ialah man aminannaasu min lisaanihi wayadihi, orang yang lisan dan tangannya tidak menyakiti orang-orang lain. Orang mukmin bukanlah biththa’aani walaa alla’aani walal faakhisyi walal badziyy , orang yang suka melukai hati; bukan tukang melaknati; bukan orang yang suka omong kasar atau bicara kotor.

Menurut kenyataan, menjaga atau menahan mulut untuk tidak makan, tidak minum, atau bahkan tidak merokok, jauh lebih mudah dari pada menjaga dan menahannya dari omong kasar yang menyakitkan atau bicara kotor. Menjaga dan menahan tangan untuk tidak menyentuh makanan atau minuman, jauh lebih ringan dari menjaaga dan menahannya dari melukai sesama. Ini semua dibuktikan oleh banyaknya adanya orang muslim yang dalam keadaan puasa ( tidak makan tidak minum), tangan dan mulutnya tidak berhenti menyakiti sesama.

Bahkan kita menyaksikan ada sementara mereka yang bersemangat menegakkan kebenaran dan beramar-makruf-nahimunkar, tak berdaya menahan mulut atau tangan kasarnya untuk melukai orang yang mereka anggap tidak benar dan munkar. Seolah-olah mereka sudah tahu persis bahwa di sisi Allah kedudukan mereka jauh lebih dekat dari pada orang yang mereka lukai. Mungkin mereka inilah orang-orang yang -menurut Muhadjir Effendy– termasuk kaum fakir moral yang perlu disantuni.

Nah, kemarin, orang-orang muslim tanpa kecuali, digembleng dalam kesucian bulan Ramadan untuk menjadi mukmin yang kuat. Mukmin yang mampu menahan bahkan menguasai diri sendiri. Tidak mudah ditunggangi nafsu amarah maupun syahwat hewani. Sehingga ketika usai penggemblengan, mereka –terutama yang belum mati hatinya– menang dan dapat mencapai predikat takwa sebagai buah puasa yang sesungguhnya (seperti disebutkan dalam Q. 2: 183) dan karenanya pantas bergembira, merayakan kefitriannya kembali.

Mereka yang berpredikat takwa, antara lain disebut-perikan dalam ayat-ayat 134-135 surah 3. Ali Imran sebagai orang-orang yang menafkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit; yang mampu menahan amarah; yang pemaaf terhadap orang. Allah menyukai mereka yang berbuat kebajikan dan apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan tidak terus mengulangi perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui. Mereka inilah yang mendapatkan sebaik-baik pahala: maghfirah dari Allah dan sorga.

Mudah-mudahan, di samping mendapatkan kekuatan diri sebagai hasil latihan dan gemblengan di bulan suci Ramadan kemarin, kita mendapatkan ampunan Allah sebagai balasan puasa dan ibadah kita yang ikhlas lillahi ta’alaa. Keduanya bisalah kiranya menjadi modal bagi kita untuk memperbaiki kehidupan kita selanjutnya. Untuk itu marilah kita awali dengan silaturahmi dan saling memaafkan, agar sempurnalah kesucian diri ini. Diampuni Allah dan dimaafkan oleh sesama hamba Allah.

Selamat Hari Raya Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Wakullu ‘aamin wa antum bikhair…

You may also like

4 Comments

  1. Pingback: Free porn movies.
  2. Pingback: Teen sex.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *