Hadiah Dari Iklan

Anak-anakpun menjadi korban. Generasi muda ini dididik untuk mengharapkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada! Anak-anak sudah diracuni sejak dini dengan iming-iming tersebut. Beli produk minuman tertentu dengan jumlah tertentu akan mendapatkan hadiah! Coba bayangkan, ini meracuni jutaan anak-anak negeri ini. Anak-anakpun merengek-rengek agar dibelikan produk itu sesuai dengan syaratnya. Dan ini juga membangun kultur konsumtif! Ini baru satu contoh. Masih banyak iming-iming lain yang sebenarnya bisa dikatakan sangat tidak mungkin untuk diraih.

Siapa yang mengontrol semua ini? Ada tidak badan pengawas periklanan atau sejenisnya yang tegas menindak iklan berhadiah penuh mimpi ini? Bukankah lebih baik kalau hadiah-hadiah itu disumbangkan saja untuk para dhuafa yang membutuhkan? Pengusaha biasanya akan berkilah, tanpa iklan berhadiah maka produknya tidak akan laku! Biasa, ‘tingkah laku’ pengusaha memang seperti begitu. Akhirnya, masalah iklan berhadiah ini menjadi ‘tanggungjawab’ konsumen sebagai pengontrol. Kalau memang iklan berhadiahnya penuh mimipi-mimpi, tidak usah diikuti.

Padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami bermimpiā€¦kata iklan berhadiah.

Fenoma masyarakat malas, tidak bersemangat, penuh dengan mimpi-mimpi disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah gencarnya produk kebutuhan manusia dengan aneka iming-iming hadiah. Termasuk jasa dari lembaga keuangan khususnya dari perbankan! Coba anda perhatikan iming-iming hadiah dari puluhan ribu rupiah sampai rumah semilyaran dari iklan produk tertentu secara langsung berdampak negatif terhadap kultur manusia negeri ini.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *